Peran dan Tanggung Jawab dalam  Mendidik anak dalam Perspektif Pendidikan Islam

Peran dan Tanggung Jawab serta  Pola asuh Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam

Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Pola Asuh Anak

Islam memandang bahwa keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggotaanggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda:

اﻷم ﻣﺪرﺳﺔ اﻷوﻟﻰ

Artinya: Ibu adalah tempat belajar yang pertama (al-Hadits).

 

Orang tua dalam keluarga memiliki peran dan tanggung jawab terhadap anak. Peran dan tanggung jawab tersebut bertujuan agar supaya anaknya dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya, mampu bersosial, dan menjadi anak yang berkepribadian sholeh.

Menurut Jalaluddin (2002: 4-6), anak yang saleh tidak dilahirkan secara alami. Mereka memerlukan bimbingan dan pembinaan yang terarah dan terprogram secara berkesinambungan. Dan tanggung jawab terhadap itu semua terletak pada kedua orang tuanya masing-masing. Bimbingan tersebut dengan tiga prinsip, yaitu: 1) prinsip teologis; 2) prinsip filosofis; dan 3) prinsip paedagogis, yang terintegrasi dalam suatu bentuk tanggung jawab terhadap anak. Sejalan dengan itu prinsip dimaksud, membimbing anak pada hakikatnya bertumpu pada tiga upaya, yaitu: memberi teladan, memelihara, dan membiasakan anak sesuai dengan perintah.

Pertama, memberi teladan. Tugas yang pertama ini orang tua berperan sebagai suri teladan bagi anaknya. Sebelumnya menjadi teladan, orang tua hendaknya memahami dan mengamalkannya terlebih dulu. Inilah sikap yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Pengamalan terhadap ajaran agama oleh orang tua secara tidak langsung telah memberikan pendidikan yang baik terutama akhlak. Orang tua harus mendidik anaknya dengan akhlak mulia. Menurut Jalaluddin (2014), akhlak sangat berkaitan dengan Kholiq (Allah Swt) yang berbeda dengan moral. Artinya, erat kaitan dengan penghambaan diri atau ibadah kepada Allah Swt.

pola asuhPendidikan akhlak dalam keluarga merupakan komponen utama dalam membentuk kepribadian anak yang saleh. Hal ini sesuai dengan tugas Rasulullah Saw. dan pola pendidikan yang diterima oleh Rasulullah. Rasulullah bersabda:

إﻧﻤﺎ ﺑﻌﻌﺜﺖ ﻷﺗﻤﻢ ﻣﻜﺎ رم اﻷﺧﻼق

Artinya: Sesungguhnya Aku (Muhammad) di utus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia. (al-Hadits)

ﺗﺄدﯾﺒﻲ ﻓﺄﺣﺴﻦ رﺑﻲ أدﺑﻨﻲ

Artinya: “Tuhanku telah mendidikku dengan pendidikan yang sangat sempurna”. (alHadits)

 

Orang tua saat ini lebih sibuk membimbing intelektual anaknya dengan menyuruh anaknya bimbingan belajar bahasa Inggris, IPA, bahasa Mandarin, dan lain sebagainya. Mereka lupa bahkan masa bodoh terhadap pendidikan akhlak anak di rumah. Mereka tidak menyadari, mengapa Rasulullah Saw. dipuji, hidupnya dalam lindungan Allah, dan menjadi teladan umat dunia?. Jawabannya adalah karena akhlak. Bahkan Allah Swt. memuji Rasulullah Swt. dalam firmannya:

ﻋﻈﯿﻢ ﺧﻠﻖ ﻟﻌﻠﻰ وإﻧﻚ

Artinya: “Sungguh engkau memiliki akhlaq yang sangat tinggi”. (Q.S. al-Qalam: 4)

 

Pendidikan akhlak dalam keluarga sangatlah dibutuhkan dan menjadi solusi saat ini. Akhlak tersebut sebagai benteng pertahanan anak dari pengaruh budaya asing yang sangat merusak moral anak. Apalagi tidak melewati proses identifikasi budaya, akan lebih berbahaya terhadap kepribadian anak.

Kedua, memelihara anak. Tanggung jawab ini fokus pada pemeliharaan fisik melalui makanan dan minuman dan pengembangan potensi anak. Makanan dan minuman harus menjadi perhatian orang tua karena untuk kelancaran pertumbuhan fisik anak.

pola asuh dalam islamMenurut Jalaluddin (2002: 7), makanan dan minuman  seyogyanya memenui persyaratan halal (hukumnya) dan thayyib (bahannya). Halal dari segi mencari dan mendapatkannya seperti berdagang, menjadi guru, dan berbisnis. Thayyib dari segi kandungan gizinya seperti nasi, daging, jagung, susu, tempe, tahu atau yang dikenal dengan makanan empat sehat lima sempurna. Makanan dan minuman yang halal dan thayyib agar diperhatikan dan sebagai syarat pokok dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:

ﻛُﻠُﻮا َواْﺷَﺮﺑُﻮا ِﻣْﻦ ِرْزِق اﱠِ َوَﻻ ﺗَْﻌﺜَْﻮا ﻓِﻲ اْﻷَْرِض ُﻣْﻔِﺴِﺪﯾَﻦ

Artinya: Makanlah dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah berkeliaran di muka bumi ini dengan berbuat kerusakan. (Q.S. al-Baqarah: 60)

 

ﱞو ُﻣﺒِﯿٌﻦ ﺪ ُُس ﻛُﻠُﻮا ِﻣﱠﻤﺎ ﻓِﻲ اْﻷَْرِض َﺣَﻼًﻻ َطﯿِّﺒًﺎ َوَﻻ ﺗَﺘﱠﺒِﻌُﻮا ُﺧﻄَُﻮاِت اﻟﱠﺸْﯿَﻄﺎِن إِﻧﱠﮫُ ﻟَﻜُْﻢ َﻋ ﯾَﺎ أَﯾﱡَﮭﺎ اﻟﻨﱠﺎ

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Q.S. al-Baqarah: 168)

 

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa manusia diperintah untuk mencari makan dan minum yang bersumber dari Allah Swt di manapun dan kapanpun dengan syarat sesuai dengan kebutuhan atau tidak berlebihan. Selanjutnya dalam pencarian rizki Allah dianjurkan memperhatikan dari ke-halal-an dan ke-thayyib-annya. Setan terus menggoda manusia agar tidak memperhatikan kedua hal tersebut. Salah satu proses pencarian rizki yang tergoda oleh langkah setan adalah melalui praktek riba, perjudian, korupsi, merampok, dan lain sebagainya.

Makanan dan minuman ikut mempengaruhi kepribadian anak terutama pembentukan akhlak. Ironis saat ini, para orang tua mencari rizki melalui proses yang tidak dibenarkan dalam Islam seperti korupsi, padahal anak merupakan anugerah terbaik dari Allah Swt. yang harus dijaga dan dipeliharan sebaik mungkin. Misalnya, apabila pejabat yang terbukti oleh pengadilan melakukan korupsi sebanyak 100 pejabat. Setiap pejabat mempunyai tiga anak, maka jumlah 300 anak. 300 anak secara tidak langsung menjadi bibit koruptor baru di masa yang akan datang. Contoh dekat saja, ayahnya koruptor kasus pengadaan alQur’an dan anaknya juga terlibat dalam kasus tersebut.

anak solehSelanjutnya, orang tua bertanggung jawab terhadap perkembangan potensi anaknya. Potensi dalam Islam dikenal dengan konsep fitrah. Islam memandang bahwa setiap anak yang dilahirkan ke muka bumi ini memiliki potensi yang harus dikembangkan. Rasulullah Saw. bersabda:

  أَْوﯾَُﻤِّﺠَﺴﺎﻧِِﮫ ﻛُﱡﻞ َﻣْﻮﻟُْﻮٍد ﯾُْﻮﻟَﺪُ ﻋَﻠَﻰ اﻟِﻔْﻄَﺮةِ ﻓَﺎَﺑََﻮاهُ ﯾَُﮭِّﻮدَﻧِِﮫ أَْو ﯾُﻨَِّﺼَﺮﻧِِﮫ

Artinya: Setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, dan Majusi. (al-Hadits)

 

Mengenai potensi al-Ghazali berpendapat bahwa anak adalah masih suci dan kosong, ia selalu menerima apapun yang ditanamkan kepadanya (Kurniawan, 2011: 92). Pendapat ini, 13 abad kemudian dikembangkan oleh filsuf Inggris John Locke (1704-1932) menjadi teori “tabula rasa” atau “optimisme pedagogis”. “Tabula rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak (Barnabib, 1997: 26). Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulant-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan.

Jalaluddin (2014) menjelaskan fitrah dapat dimaknai suci, potensi berupa fisik dan psikis, dan kesadaran untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Potensi tersebut dapat terbentuk dan berkembang oleh pengaruh dari luar yang disebut dengan karakter.

Pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian anaknya, apabila rangsangan tersebut positif maka akan positif pula begitu juga sebaliknya. Ibn Miskawih menjelaskan bahwa watak atau karakter dapat berubah sesuai dengan rangsangan yang diberikan melalui pendidikan.

Ketiga, membiasakan anak sesuai dengan perintah agama. Tugas ini fokus pada pembiasaan aturan agama kepada anak. Aturan agama yang berkaitan dengan syariat dan sistem nilai dalam bermasyarakat.

Perintah agama haruslah dilakukan oleh orang tua melalui proses pelatihan atau pembiasaan. Pembiasaan tersebut berkaitan dengan akhlak baik kepada Allah Swt., kedua orang tua, dan orang lain. Ibn Miskawih (1967: 9) dalam kitabnya Thabiz al-Akhlaq, menjelaskan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang mengajak atau mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya.

Pandangan Miskawih di atas diikuti juga oleh al-Ghazali, akhlak adalah sesuatu yang menetap dalam jiwa dan muncul dalam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran terlebih dahulu. Akhlak bukanlah perbuatan, kekuatan, dan ma’rifah. Akhlak adalah “haal” atau kondisi jiwa dan bentuknya bathiniyah (Rohayati, 2011: 12).

Dengan kata lain akhlak adalah keadaaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatanperbuatan secara spontan. Sikap jiwa atau keadaan jiwa seperti ini terbagi menjadi dua; ada yang berasal dari watak (bawaan) atau fitrah sejak kecil dan ada pula yang berasal dari kebiasaan latihan. Pembiasaan dengan syariat seperti sholat, puasa, dan sebagainya. Pembiasaan dengan sistem nilai berkaitan erat dengan akhlak anak seperti makan dan minum pakai tangan kanan, berbicara santun kepada orang yang lebih tua, dan lainnya.

Akhlak merupakan yang dapat mendorong perbuatan manusia secara spontan selain sebagai fitrah (naluria) manusia sejak kecil, juga dapat dilakukan melalui kebiasaan latihan dan proses pendidikan sehingga perbuatan-perbuatan itu menjadi baik.

Membiasakan anak untuk berakhlak mulia merupakan solusi terhadap fenomena anak di zaman sekarang yang mengasimilisai budaya asing yang bertentangan dengan aturan Allah Swt. Seperti tidak menghormati orang tua, memakai pakaian serba mini yang memperlihatkan auratnya, dan perilaku lainnya.

Menurut Imam Syed Hafeed al-Kaff (2002: 8), Salah satu kewajiban orang tua adalah menanamkan kasih sayang, ketenteraman, dan ketenangan di dalam rumah. Allah Swt. berfirman:

……ورﺣﻤﺔ ﻣﻮدة ﺑﯿﻨﻜﻢ ﺟﻌﻞ و إﻟﯿﮭﺎ ﻟﺘﺴﻜﻨﻮا أزواﺟﺎ أﻧﻔﺴﻜﻢ ﻣﻦ ﻟﻜﻢ ﺧﻠﻖ أن آﯾﺎﺗﮫ ﻣﻦ و

Artinya: Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Ia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tentram dengan mereka. Dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. (Q.S. ar-Ruum: 21)

 

Hubungan antara suami dan istri atau kedua orang tua adalah hubungan kasih sayang. Hubungan ini dapat menciptakan ketentraman hati, ketenangan pikiran, kebahagiaan jiwa, dan kesenangan jasmaniah. Hubungan kasih sayang ini dapat memperkuat rasa kebersamaan antaranggota keluarga, kekokohan pondasi keluarga, dan menjaga keutuhannya. Cinta dan kasih sayang dapat menciptakan rasa saling menghormati dan saling bekerja sama, bahu-membahu dalam menyelesaikan setiap problem yang datang menghadang perjalanan kehidupan mereka. Hal ini sangat berperan dalam menciptakan keseimbangan mental anak.

Spock dalam Imam Syed Hafeed (2002: 9) berpendapat bahwa keseimbangan mental anak sangat dipengaruhi oleh keakraban hubungan kedua orang tuanya dan kebersamaan mereka dalam menyelesaikan setiap masalah kehidupan yang mereka hadapi. Suami isteri harus berusaha memperkuat tali kasih di antara diri mereka berdua dalam semua periode kehidupan mereka, baik sebelum masa kelahiran anak mereka maupun setelahnya.

Allender dan Spradley (2005), serta Friedman (1998) mengatakan bahwa fungsi keluarga adalah memberi cinta kasih sayang dan dukungan emosional kepada anggota keluarganya. Pemberian ini secara kontinyu agar terjadi keharmonisan dalam keluarga. Begitu juga hubungan anak didik dengan guru di sekolah.

Seorang ibu hendaknya berusaha keras mengasuh dan memberi kepuasan cinta kasih pada anaknya, misalnya dengan sering mengelus kepalanya sebagai ungkapan rasa cinta. Para ayah juga harus memperhatikan kebutuhan cinta kasih anak-anaknya, mendudukkan mereka di pangkuannya atau di sebelahnya sebagai tanda kasih terhadap mereka.

Seorang Psikolog dan Peneliti Mesir, Sayyid Muhammad Ghanim mengamati bahwa ada empat teori tentang analisa perkembangan kejiwaan dan emosi anak. Yaitu teori perkembanan seksual menurut Freud, teori perkembangan sosial menurut Erickson, teori perkembangan identitas menurut Albert, dan yang terakhir teori perkembangan kognitif menurut Piaget. Yang terpenting dari empat pandangan ini, semua sepakat bahwa memerlukan perhatian psikologis dan kasih sayang dari kedua orang tua sejak dini (Mazhahiri, 2000: 202). Kasih sayang inilah yang sebenarnya mampu membina kepribadian anak. Ia dapat tumbuh besar baik secara fisik maupun psikis, sehingga ia mampu menjadi anak yang sesuai dengan harapan agama dan orang tua.

 

Pola Asuh Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam

Keluarga merupakan insitusi terkecil dalam masyarakat, yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Keluarga menjadi tempat belajar, dan proses pertumbuhan dan perkembangan anak sebagai manusia yang utuh dan makhluk sosial. Sebagaimana Rasul bersabda:

اﻷم ﻣﺪرﺳﺔ اﻷوﻟﻰ

Artinya: Ibu adalah tempat belajar yang pertama. (al-Hadits)

Kata “al-Ummu” di atas menunjukkan ibu sebagai orang yang paling dekat kepada anak dan paling berperan dalam mengasuh atau mendidik anak. Dengan kata lain, ibu sebagai panglima utama dalam mendidik anak, namun ayah juga ikut membantu ibu dalam mendidik anak. Selanjutnya kata “madrasatu al-ula” menunjukkan sebagai tempat anak menerima pendidikan yang pertama dari ibu sebelum ia berinteraksi dengan masyarakat.

Orang tua saat ini menerapkan berbagai pola dalam mengasuh anak seperti dengan lemah lembut, masah bodoh, membebaskan anaknya, dan yang paling mengerikan adalah dengan kekerasan. Pola asuh orang tua sangat mempengaruhi mental dan kepribadian anak. Selanjutnya orang tua perlu mempelajari bagaimana cara mendidik yang baik sesuai dengan usia anak terutama cara mendidik anak yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah Saw.

Mendidik dengan baik dan benar berarti menumbuhkembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Pola asuh pun menjadi awal perkembangan pribadi dan jiwa seorang anak. Pola asuh adalah tata sikap dan perilaku orang tua dalam membina kelangsungan hidup anak, pertumbuhan, dan perkembangannya; memberikan perlindungan anak secara menyeluruh baik fisik, sosial, maupun mental, serta spiritual yang berkepribadian (Achir, 1989).

Menurut Edwards (2006), pola asuh merupakan interaksi anak dan orang tua dalam mendidik, membimbing, mendisplinkan, dan melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat”. Pola asuh adalah sekelompok sikap yang ditujukan kepada anak melalui suasana emosional yang diekspresikan (Darling dan Steinberg, 1993).

Pola asuh merupakan segala bentuk interaksi antara orang tua dan anak mencakup ekspresi orang tua terhadap sikap, nilai-nilai, minat dan kepercayaan serta tingkah laku dalam merawat anak. Interaksi ini baik langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap anak dalam mendapatkan nilai-nilai dan keterampilan yang akan dibutuhkan untuk hidupnya. Pemahaman terhadap pola asuh merupakan suatu keharusan bagi orang tua.

anak solehPerilaku mengasuh dan mendidik anak sudah menjadi pola yang sadar tidak sadar keluar begitu saja ketika menjadi orangtua. Oleh beberapa peneliti, perilaku-perilaku ini kemudian di teliti dan muncullah beberapa teori untuk menyimpulkan pola-pola pengasuhan yang berkembang. Berikut empat tipe pola asuh yang dikembangkan pertama kali oleh Diana Baumrind (1997) dalam Uswatun Hasanah (2012: 34-37) yaitu: pola asuh authoritative (demokratis); authoritarian (otoriter); permisif; dan uninvolved (penelantar).

Pertama, pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

Kedua, pola asuh otoriter sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.

Ketiga, pola asuh permisif atau pemanja biasanya meberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.

Keempat, tipe penelantar. Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.

Keempat pola asuh di atas merupakan pola yang sering terjadi dalam keluarga khususnya mendidik anak. Namun yang paling menjadi perhatian saat ini adalah pola asuh otoriter yang identik dengan kekerasan, ancaman, serta kurangnya kasih sayang pada anak. Pola ini terjadi karena adanya ketidakharmonisan keluarga atau ketidaktahuan orang tua bahwa ini akan membahayakan terhadap kepribadian dan mental anaknya.

Mayasari Oei dalam Karlina Silalahi dan Eko (2010), setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya menjadi manusia yang pandai, cerdas, dan berakhlak. Akan tetapi banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka mendidik membuat anak merasa tidak diperhatikan, dibatasi kebebasannya, bahkan ada yang merasa tidak disayang oleh orang tuanya. Banyak orang tua menganggap pola asuh otoriter yang biasa berwujud dalam bentuk tindakan kekerasan pada anak adalah wajar sebagai cara mendisiplinkan anak. Padahal, anak yang mendapat perlakuan dan asuhan yang keras dan tanpa afeksi, akan mengakibatkan luka batin dalam jiwa si anak.

Kekerasan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya terjadi karena ketidaktahuan tentang pola asuh atau tekanan dari luar yang membuat ia melakukan hal tersebut. Seperti ia ingin anaknya menjadi seperti anak tetangganya yang cerdas dan baik atau dikarenakan kurang harmonist antara ayah dan ibu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.