Pola Asuh Anak Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam

Pola Asuh Anak Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam – islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin menawarkan langkah-langkah mendidik
anak yang menjadi solusi dalam keluarga sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan al-Hadits.
Sebagaimana Rasulullah bersabda:
“Bimbinglah anakmu dengan cara belajar sambil bermain pada jenjang usia 0-7
tahun, dan tanamkan sopan santun dan disiplin pada jenjang usia 7-14 tahun,
kemudian ajaklah bertukar pikiran pada jenjang usia 14-21 tahun, dan sesudah itu
lepaskan mereka untuk mandiri.
Pernyataan Rasul di atas, setiap jenjang usia anak dianjurkan menerapkan pola
mendidik yang berbeda sesuai dengan usia dan potensinya. Hal ini penting diperhatikan
oleh orang tua yang menginginkan tumbuh kembang anak yang efektif dan baik.
Selanjutnya, tanggung jawab mendidik anak relatif panjang hingga usia 21 tahun.
Penjelasan cara mendidik anak sesuai jenjangnya sebagai berikut:

anak soleha. Membimbing anak usia 0-7 tahun
Dalam ilmu jiwa perkembangan, usia 0-7 yahun mencakup masa bayi dan masa
kanak-kanak. Menurut Jaka (1979) dalam Jalaluddin (2002: 111), masa bayi
merupakan periode pertama yang dilalui bayi setelah dilahirkan. Dalam tahun-tahun
pertama perkembangannya boleh dikatakan bayi sangat tergangung dengan
lingkungannya. Seroang bayi masih memerlukan perawayan yang telaten. Sedangkan
kemampuan yang dimilikinya baru terbatas pada gerak-gerak pernyataan seperti

Pola Asuh Anak Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam
menangis dan meraban (mengeluarkan suaran tanpa makna), serta mengadakan reaksi
terhadap perangsang dari luar.
Belajar sambil bermain dinilai sejalan dengan tingkat perkembangan anak-anak
usia 0-7 tahun. Bimbingan yang diberikan dilakukan dalam suasana ramah, riang
gembira dan penuh kasih sayang. Sebagai contoh, umpamanya seorang ayah dan ibu
akan membimbing anaknya agar anak mencuci tangan sebelum makan, makan dan
minum pakai tangan tangan sebagai bagian dari pendidikan kebersihan dapat dilihat
dari rangkaian kalimat berikut:
Ayah: Aduh, anak ayah sudah pintar, sudah bisa makan sendiri.
Ibu : Iya, Amin memang sudah pintar. Anak Ibu ynag manis kalau makan
biasanya cuci tangan dulu.
Ayo, Ibu mau lihat. Nah, ini tangan manisnya. Ayo kita cuci dulu, ya?
Kalimat-kalimat pendek seperti itu lebih mudah dipahami anak. Selain itu sesuai

pola asuh
dengan tingkat usianya, anak-anak memang bersifat sugestibel (mudah dipengaruhi),
terutama jika dengan cara yang baik dan ramah. Bagi anak baik identik dengan bagus.
Maksudnya, anak akan menurut kepada seseorang yang menurut penilaiannya baik
terhadapnya, karena dalam pandangan anak perlakuan yang baik samalah dengan
suatu yang bagus (Jalaluddin: 2002: 113).
Pola asuh seperti ini membutuhkan ketelatenan dari kedua orang tua, mereka
harus sabar dan serasi dalam mendidik anak. Anak pada usia ini layaknya seorang
“raja” sehingga anak mendapatkan rasa aman, perlindungan yang utuh, sehingga
timbul rasa senang dan senang sebagai dasar otak anak dalam proses menerima
informasi yang paling efektif.
Pada usia ini, orang tua mulailah sedikit demi sedikit mengenalkan sosok
teladan dalam kehidupan mereka seperti Rasulullah Saw.,
Khulafaur Rasyidin.
Tentunya dengan pendekatan yang sesuai dengan usianya. Misalnya makan pakai
tangan tangan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Pemberian kasih sayang pada usia ini sangatlah dianjurkan oleh Islam. Kasih
sayang yang diberikan orang tua dengan sepenuh hati, maka ia akan menerima kasih
sayang dari anak-anak mereka. Rasulullah dalam banyak hal mempraktikkan dalam
membimbing anak dengan kasih sayang.

pola asuh
Pada suatu hari, ketika Rasul Saw. tengah mengucapkan khotbahnya, beliau
melihat kedua cucunya berlari dengan mengenakan pakaian yang menarik, melihat
hal itu Rasul menyempatkan diri turun dari mimbar, membawa keduanya ke mimbar
dan melanjutkan khotbahnya dengan menyertakan cucu beliau berada dalam
pangkuan. Demikian pula saat Rasul Saw. sedang mengerjakan salat. Saat sujud
kedua cucu beliau Hasan dan Husein berada di punggung beliau. Rasul melamakan
waktu sujud beliau. Dan setelah keduanya turun, barulah Rasul Saw. menyelesaikan
sujud beliau. Terlihat benar kasih sayang Rasul Saw. kepada keduanya.

Pola Asuh Anak Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam
Padjrin
Intelektualita

Bimbingan dan pendidikan yang didasarkan atas rasa kasih sayang anak
membuat anak merasa tidak dikekang, kebebasan akan mendorong anak-anak
berkreasi sejalan dengan kemampuan yang mereka miliki.


b. Membimbing anak usia 7-14 tahun
Pada tahap kedua, Rasul Saw. menyatakan bahwa bimbingan yang diberikan
kepada anak dititikberatkan pada pembentukan disiplin dan akhlak
(Addibuu). Pada
tahap kedua ini, yaitu anak antara usia 7-14 tahun, memang memiliki ciri-ciri
perkembangan yang berbeda dari tingkat usia sebelumnya. Ada beberapa aspek
perkembangan yang dimiliki oleh anak-anak dalam usia tersebut baik meliputi
perkembangan intelektualnya, perasaan, bahasa, minat, sosial, dan lainnya.
Masa ini termasuk masa yang sangat sensitif bagi perkembangan kemampuan
berbahasa, cara berpikir, dan sosialisasi anak. Di dalamnya terjadilah proses
pembentukan jiwa anak yang menjadi dasar keselamatan mental dan moralnya. Pada
saat ini, orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap masalah pendidikan
anak dan mempersiapkannya untuk menjadi insan yang handal dan aktif di
masyarakatnya kelak.
Menurut hasil penelitian Alfred Binet dan Simon dalam Jalaluddin (2002: 120),
anak di usia tujuh tahun telah memiliki kemampuan menyebut kembali tiga bilangan
dari lima angka; membedakan antara kiri dan kanan; menunjukkan apa yang kurang
pada suatu gambar; pengetahuan tentang mata uang; dan menggambar belah ketupat
berdasarkan contoh.
Berdasarkan tingkat perkembangannya, anak-anak usia 7 tahun memang sudah
memiliki kemampuan dasar untuk berdisiplin. Karenanya dalam batas-batas tertentu
mereka pun sudah mampu meredam perasaan yang tidak menyenangkan dirinya,
untuk berbuat patuh, menurut ketentuan yang dibebankan kepada mereka. Dalam
konteks perkembangan ini pula tampaknya anjuran Rasul Saw. untuk membimbing
anak dengan menggunakan
addib sebagai kiat yang tepat, dan efektif.
Menurut al-Attas (1987) dalam Jalaluddin (2002: 126-127), adab adalah disiplin
tubuh, jiwa dan ruh; disiplin menegaskan pengenalan dan pengakuan dan potensi
jasmaniyah, intelektual, dan rohaniyah, pengenalan dan pengakuan atas kenyataan
ilmu dan wujud ditata secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajatnya.
Salah satu yang ditekankan Rasul Saw. adalah salat.
“Perintahkan anakmu salat
ketika ia berumur tujuh tahun dan pukullah apabila anak itu telah mencapai usia
sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur mereka”.
Kata “pukullah” dalam hadits ini,
bukanlah bermakna “kekerasan” tetapi “diprioritaskan”. Mengajarkan anak tentang
salat dimulai dari sedini mungkin, hal ini penting untuk membiasakan atau melatih
anak dan juga sebagai identitas kemusliman anak.
Selain itu, anak pada usia ini mulailah dididik untuk bangun pagi,
membersihkan tempat tidur, mengenakan pakaian sendiri, puasa dan lainnya.

Pola Asuh Anak Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam
Selanjutnya orang tua, mulai membuat aturan-aturan yang mendidik yang disertai
dengan hukuman dan hadiah.
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa anak pada usia tersebut mulai terbiasa
dengan hidup disiplin dan anak sangat mudah terpengaruh dari faktor lingkungan
sehingga perlu dibuat tata tertib dalam keluarga dengan memberikan hadiah jika
melakukan dan diberikan hukuman jika tidak melakukan atau lalai terhadap aturan.

c. Membimbing anak usia 14-21 tahun
Bimbingan yang diberikan kepada anak dalam periode perkembangan ini
menurut Rasulullah Saw. adalah dengan cara mengadakan dialog, diskusi,
bermusyawarah layaknya dua orang teman sebaya.
Shohihhu (perlakukanlah seperti
teman), anjuran Rasul Saw. jangan lagi mereka diperlakukan seperti anak kecil, tapi
didiklah mereka dengan menganggap mereka sebagai seorang teman.
Menurut Crijns (Jalaluddin, 2002: 125-126), di usia antara 7-10 tahun mulai
berkembang pada motif (alasan) yang menimbulkan perbuatan itu. Dan di atas usia
10 tahun umumnya anak-anak menghargai sesuatu sudah didasarkan pada alasanalasan batin, namun terkadang belum tepat. Barulah pada usia sekitar 14 tahun,
pemahaman mereka tentang kesusilaan meningkat.
Di tahap ini porsi kemandirian harus lebih tinggi. Anak sudah mulai bisa
menguji dengan tantangan tantangan dunia luar yang lebih “nyata” dan lebih “keras”.
Peran orang tua di fase ini adalah sebagai
“coaching”, sebagai teman berbagi suka
dan duka para anak sehingga orang tua tetap dapat mengontrol perkembangan,
sosialisasi para anak.
Pada usia ini, anak mulai mengalami gejolak batin untuk mencari jati dirinya
yang sebenarnya. Gejolak tersebut ditampilkan melalui tingkah laku negatif maupun
positif. Mereka mulai mengenal wanita dalam hidupnya, sering melakukan tindakan
asusila yang bertentangan dengan hukum agama maupun norma masyarakat.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, orang tua diharapkan selalu berdiskusi dan
bertukar pikiran mengenai tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan
menganggap anak sebagai teman berarti tidak ada yang disembunyikan, semuanya
dijelaskan secara terbuka. Karena pada usia ini anak sudah dapat membedakan dan
menentukan pilihan mana perbuatan yang negatif dan positif.
Setelah melewati usia ini, barulah orang tua melepas anaknya untuk hidup
mandiri dengan tetap mendapat pengawasan dari orang tua. Umur 0-21 tahun, anak
telah siap untuk menjadi bagian dari masyarakat yang seutuhnya karena mereka telah
diasuh dan dididik dengan kasih sayang, diberikan makanan dan minuman yang halal
dan thayyib, dikembangkan potensinya, dan dibekali dengan akhlak mulia.
Orang tua tidak perlu takut atau khawatir ketika anak sudah menginjak usia
mandiri jika ia dibimbing dengan pola asuh yang sesuai tuntunan al-Qur’an dan
Rasulullah Saw. serta penuh dengan kasih sayang. Begitu juga sebaliknya, orang tua

Pola Asuh Anak Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam
Padjrin
Intelektualita

yang tidak mengoptimalkan peran dan tanggung jawabnya terhadap anak dalam
keluarga yang selama ini mengasuh dengan pola kekerasan, ia akan mendapatkan
anaknya yang krisis kepercayaan diri dan akhlak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.